Awal Mula Adanya Kartu Merah dan Kartu Kuning Dalam Sepakbola

Posted in Uncategorized on 13 November 2018 by propagandhi

Semua pasti sudah tahu dengan olahraga ini. Anak bayi saja tahu.

Ya sepakbola adalah olahraga yang paling populer di dunia. Olahraga yang dilakukan dengan menendang bola dari kaki ke kaki ini memiliki peraturan yang unik didalamnya. Dalam permainan sepakbola terjatuh dan menjatuhkan pemain adalah hal yang lumrah dengan tujuan menghentikan pergerakan pemain yang emmbahayakan pertahanan. Namun apa jadinya jika seorang pemain menjatuhkan dengan cara yang keras dan brutal? tentu saja hal itu tidak dibenarkan. Ini olahraga kaki bukan gulat Smackdown

LOL untuk itu dibuatlah peraturan yang unik. Inspirasinya muncul pada Piala Dunia 1966. Pada perempat final antara tuan rumah Inggris lawan Argentina. Wasit yang memimpin pertandingan itu berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.Karena melakukan pelanggaran keras, kapten Argentina, Antonio Rattin, dikeluarkan oleh Kreitlein. Namun, Rattin tak paham apa maksud wasit asal Jerman itu. Dia pun tak segera meninggalkan lapangan.

Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Kn Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan. Sebab, wasit yang memimpin pertandingan, Rudolf Kreitlein, memutuskan begitu. Karena hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, ia kesulitan menjelaskan keputusannya kepada Rattin.Karena kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir.

Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Sehingga, wasit tanpa harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.

Suatu hari, dia berhenti di perempatan jalan. Melihat traffic light (lampu merah), dia kemudian mendapatkan ide. Kemudian dia mengusulkan agar wasit dibekali kartu kuning dan merah. Kartu kuning untuk memberi peringatan keras atau sanksi ringan kepada pemain yang melakukan pelanggaran. Sedangkan kartu merah untuk sanksi berat dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan.

Ide itu diterima FIFA. Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah untuk pertama kalinya digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan. Sehingga, kartu merah tak bisa “pamer diri” di Piala Dunia 1970.

Meski ide itu datang dari wasit Inggris, namun negeri itu tak serta-merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Karena kemudian wasit terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain, maka penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.

Yang menarik, ide ini ternyata mengadopsi cabang olahraga hoki. Bahkan, di cabang ini menggunakan tiga warna kartu, seperti traffic light: hijau, kuning, dan merah. Hijau untuk peringatan, kuning untuk mengeluarkan pemain sementara waktu, dan merah untuk mengusir pemain secara permanen.

Sehatkah Kehadiran Industri Rokok dalam Musik?

Posted in Uncategorized on 13 November 2018 by propagandhi

JURNALRuang

 

Musik | Esai

Sehatkah Kehadiran Industri Rokok dalam Musik?

oleh Argia Adhidhanendra

31 Oktober 2018 Durasi: 8 Menit

Ilustrasi: Yulia Saraswati

Sponsor rokok semakin dominan di scene musik independen. Apakah hal ini baik bagi scene atau justru mematikan?

Sejak awal, industri rokok dan musik memang tak terpisahkan. Sejak era kejayaan LA Lights Indiefest hingga kini, paling tidak sebulan sekali (bahkan lebih) ada acara musik bersponsor rokok yang diselenggarakan. Perkembangan hubungan kedua industri ini layaknya seorang sugar daddy dan sugar baby yang sudah pacaran sejak tingkat pertama kuliah hingga hari ini, saat sang sugar daddysudah paruh baya dan diakuisisi perusahaan multinasional dan sang sugar baby sudah bertambah dewasa. Perumpamaan ini saya dapat dari seorang narasumber anonim yang dekat dengan industri rokok.

Dalam tahun ini, dua acarayang saya organisir bekerja sama dengan industri rokok. Silakan mencap saya munafik, tapi saya sudah mendapatkan pengalaman langsung tentang cara kerja mereka. Sebagai perwakilan dari entitas yang baru saja membuka pintu pada rokok setelah lima tahun bekerja independen, saya kira saya memiliki insight yang cukup ekstensif atau paling tidak mewakili uneg-uneg entitas lain tentang kehadiran industri rokok dalam scenemusik independen.

Berbicara tentang industri rokok adalah tabu tersendiri dalam scene musik independen. Entah saya yang ceroboh, tidak tahu konsekuensi apa yang terjadi setelah artikel ini terbit. Banyak red flag yang muncul sepanjang penulisan artikel ini. Dua narasumber memilih untuk anonim dan lebih banyak lagi yang bertanya-tanya apa tujuan saya menulis naskah ini.

Pertama-tama, saya ingin publik–dalam hal ini konsumen industri musik–tahu apa yang dilakukan industri rokok dalam ranah musik independen. Kedua, saya ingin entitas-entitas dalam industri musik, baik yang belum, yang sudah, bahkan yang sedang bekerja sama dengan industri rokok hari ini untuk tahu baik-buruknya kelindan antara industri rokok dengan musik independen.

Satu lagi yang ingin saya sampaikan: ini bukan hit piece untuk menggembosi industri rokok. Tak bisa dipungkiri bahwa industri rokok, for better or for worse, telah menjadi pondasi industri musik arus pinggir sejauh ini. Saya pribadi pun tidak sepenuhnya menolak masuknya industri rokok ke dalam scene musik, dan saya yakin banyak yang sependapat dengan saya. Saya hanya ingin naskah ini menjadi jeda yang pas bagi kita untuk mendiskusikan dampak jangka menengah dan panjang dari keterlibatan rokok di scene musik, dan nature dari hubungan tersebut.

Pergeseran Konsumen dan Siasat Industri

Dalam hubungan kedua industri ini, tentu konsumen yang paling diuntungkan. Bagaimana tidak? Tiket termahal hanya setara dengan satu slop rokok dengan bintang tamu mentereng (walau kita tahu yang mentereng di acara rokok bukan cuma bintang tamunya). Apa yang tidak disukai konsumen di sini? Saya yakin mayoritas konsumen merasa diuntungkan, asal mereka tidak terganggu dengan lampu neon yang membentuk huruf tertentu atau kehadiran SPG di acara. Namun, apakah benar begitu? Apakah konsumen tahu pertukaran yang harus direlakan untuk mencapai kenyamanan ini?

Pertama, rokok membuat acara bukan untuk keuntungan langsung, boro-boro balik modal. Aktivasi rokok, baik melalui konser biasa maupun tur Sembilan Negara yang dikonversi menjadi konten mahacanggih digunakan sebagai iklan untuk mendorong produk mereka. Tentu ini semua pengetahuan umum. Namun, bayangkan saja: sebuah festival terkini di bawah merek rokok tertentu mengundang dua band favorit saya, keduanya epitome anak shoegaze terkini, hanya dengan tiket yang dibanderol seharga 150 ribu rupiah. Sebagai konsumen, saya tentu senang bisa menonton kedua band tersebut dengan harga miring. Akan tetapi saya sebagai organizer (yang seringkali merugi), tidak habis pikir harga tiket bisa semurah itu.

Untuk mengetahui apa yang kita korbankan demi acara musik seperti ini yang kian menjamur, saya berbincang dengan seorang kawan yang memilih anonim. Saat ini, ia bekerja untuk industri rokok dan merasa cukup terganggu dengan tindakan industri rokok di scene musik independen lokal.

“Kalau ditarik ke belakang, di Indonesia rokok dan musik sudah lama banget kawin,” tutur kawan saya ini. “Asosiasi bahwa ngedengerindan membuat musik itu dilakukan sambil merokok sudah dibangun sejak zaman pentas-pentas kecil di kampung. Mereka nge-bundling pentas musik dengan sebungkus rokok.”

Namun, seiring berjalannya waktu, promosi rokok melalui panggung-panggung besar musik mulai dibatasi. Aturan PP Nomor 109 Tahun 2012, misalnya, melarang perusahaan rokok menggunakan nama dagangnya saat mensponsori acara. Seperti yang dilaporkan oleh Tirto.id, di fase peralihan ini organizeracara skala besar yang tadinya bergantung pada dukungan dana rokok mulai berpaling pada sponsor dari bank. Pergeseran inilah yang mendorong sponsor rokok untuk mulai merevisi strategi pemasaran mereka dan mulai menyasar komunitas-komunitas musik independen yang skalanya lebih kecil.

“Komunitas musik sudah dipetakan sejak lama,” tutur narasumber saya. “Jejaringnya sudah terbangun dan ada pihak seperti FFWD Records di Bandung dan Aksara Records di zaman LA Lights Indiefest dan Dunhill yang buka jalan mereka masuk ke scene musik. Sementara, asosiasi antara musik dan rokok masih terbangun di masyarakat.”

“Hari ini, secara umum rokok berada di scene musik independen untuk mengembangkan dan mempertahankan brand character yang mereka imajinasikan. Mereka berharap scene ini bakal menjadi representasi dari brand rokok tersebut. Tujuannya apa? Ya, untuk bikin contoh bagi anak-anak yang lebih muda untuk mengasosiasikan hal yang sama dengan pendahulunya, bahwa musik itu ya harus sambil ngerokok.”

Akan tetapi, meskipun asosiasi antara rokok dengan musik sudah terbangun begitu erat di masyarakat, taktik untuk mempertahankan imaji itu tentu harus selalu disesuaikan dengan zaman. Ketika mereka bergeser ke konser-konser skala lebih kecil dan bekerja sama dengan kolektif yang tadinya independen, mereka pun berkompromi. “Sekarang kehadiran SPG, branding totem, dan bundling rokok dirasa sudah terlalu kasar buat jualan,” lanjut kawan saya.

“Beberapa perusahaan rokok sudah diakuisisi sama perusahan multinasional yang punya peraturan lebih ketat. Mereka merasa harus cari cara alternatif untuk berpromosi. Alternatifnya ya dengan targeted promotion, promosi langsung ke niche market. Melalui apa? Bisa bicara langsung lewat platform yang mereka miliki kayak GoAhead People, Siasat Partikelir, dan Together Whatever, bisa pinjam mulut brand ambassador, atau bisa lewat customer relationship management langsung melalui surel.”

“…taktik industri rokok bahkan menjurus ke monopoli industri.”

Tentu saja, pergeseran dalam strategi pemasaran ini membutuhkan data baru dan kawan-kawan baru untuk membantu mereka menghimpunnya. “Mereka jadi butuh teman-teman di scene musik untuk membantu mereka profilingniche market mereka dan ngegendutin data marketmereka. Dapatnya dari mana? Ya, dari aktivitas yang lo lakukan dengan mereka di acara. Jadi media partner, jadi BA, dan lainnya. Audiens lo dan teman-teman lo di-profiling dan entah kamu kerasa atau enggak kamu sudah terpapar promosi produk rokok tersebut.”

Kawan saya sendiri skeptis bahwa taktik ini akan berhasil di jangka panjang dan menghasilkan dampak yang sustainable. “Secara angka, mass media dan mass event lebih punya impactketimbang event skala kecil. Kalau ada yang keukeuhbahwa ini ada impact­-nya, kayaknya mereka belum bisa membuktikan. Masih perlu kajian lebih jauh dan strategi yang lebih tepat sasaran lagi. Scene independen jadi kelinci percobaan, sih. Eksperimen untuk cara pemasaran baru. Good luck saja buat kedua pihak.”

Bagi saya, pernyataan tadi membuka begitu banyak faktor yang bermain dalam peranan industri rokok di ranah musik independen. Publik dalam scene menjadi sapi perah bagi industri rokok. Mereka diakui sebagai niche market bagi industri rokok, sebagai konsumen dan penajam brand characterhanya karena konsumen tersebut tertarik menonton artis yang tampil di acara garapan sponsor rokok tertentu.

Jika mau berbicara tentang penggunaan data mereka, maka saya dapat menulis tiga sampai empat artikel lagi. Namun, yang menarik dari ucapan kawan saya ini adalah bagaimana semua ini hanya eksperimen. Sehingga bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi kita akan bertemu dengan aktivasi rokok dalam bentuk lain.

Tentu, cocok tidaknya motivasi industri musik dengan kehendak kita sebagai scenester kembali pada preferensi masing-masing. Yang ingin saya soroti adalah bagaimana kita sebagai audiens telah memungkinkan hubungan yang eksploitatif ini. Secara tidak sadar, kecintaan kita pada musik telah mendorong industri yang paling tidak seksi di dunia.

Berpikir Jangka Panjang

Selesai mengupas motivasi mereka, saya ingin memutus argumen bahwa mereka menunjukkan dukungan kepada entitas dalam musik independen (biasanya dengan uang tunai). Untuk mendapat pandangan lebih luas, saya berbincang dengan senior-senior saya dalam scenemusik independen dan industrinya.

Ekrig adalah salah satu individu di balik 630 Recordings–label yang menaungi artis seperti Eleventwelfth dan pernah memboyong artis internasional seperti Protomartyr, A Place to Bury Strangers, serta Fazerdaze ke Indonesia. Pada gelaran Protomartyr, ia bekerja sama dengan lembaga yang bertautan dengan rokok. Ia memiliki posisi yang cukup kritis terhadap keterlibatan rokok di scene musik independen.

Saya berbincang cukup lama dengan beliau, ironisnya di acara yang disponsori rokok. Baginya, rokok “enggak benar-benar peduli dengan industri musik.” Ia berpendapat bahwa aktivasi yang mereka lakukan terlalu kasar dan hanya menjadi cara untuk memerah data. Dari sudut pandang organizer, Ekrig menilai bahwa ia dan banyak organizer mandiri lain yang bersusah payah mendatangkan artis dengan perhitungan “balik modal saja sudah untung”, tiba-tiba harus bersaing dengan acara rokok yang bermain di kolam yang sama dan peduli setan soal untung-rugi. Yang ada di pikiran mereka hanya konten apa yang menarik orang paling banyak dengan harga termurah.

Tindakan ini, menurut Ekrig, bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, industri rokok menggelontorkan dana tinggi untuk rekaman, konser, bahkan tur. Taktik ini jelas menguntungkan pihak band. Namun, praktik acara rokok dengan harga tiket luar biasa miring–bahkan gratis sepenuhnya–berpotensi mematikan atau bahkan meminggirkan kolektif dan organizerindependen. Tentu, skenario mimpi buruk tersebut punya implikasi yang menggelitik: ketergantungan penuh pada sponsor rokok dalam segala lini.

Akan tetapi, saya jadi berpikir, jika entitas independen memutuskan untuk menyerah atau terdorong keluar dari industri karena dihabisi oleh rokok, apakah itu sehat? Jika mereka hanya bisa melakukan konser skala studio gig atau baru bisa melaksanakan acara dengan skala medium atau besar dengan dana rokok, apakah itu sungguh-sungguh bisa dibilang “dukungan”?

Jika entitas-entitas yang bekerja di level akar rumput ini tidak ada lagi dan komunitas yang mereka wakili sudah terpencar, ke mana rokok akan mendorong band yang mereka dukung? Apakah band-band ini akan bermain eksklusif untuk acara brand activationmereka? Di sini, saya rasa kita mulai bisa melihat betapa konyol dan kontradiktifnya premis dari taktik industri rokok yang bahkan menjurus ke monopoli industri.

“Sebagai pelaku industri, kita perlu cermat melakukan give and take dan, yang terpenting, tidak tergantung pada dukungan industri rokok.”

Satu sentimen yang lebih ekstrem digaungkan oleh kawan saya yang menjadi head honcho sebuah organizer sekaligus label tapi memilih untuk anonim. “Intinya sih, gue enggak mendukung uang dari rokok sama sekali karena mereka selalu jualan bahwa mereka dukung youth movement and culture, tapi mereka encourage anak muda untuk ngerokok. Menurut gue itu kontraproduktif,” ujarnya.

“Mereka enggak akan pernah benar-benar peduli dengan apa yang kita kerjakan. Mereka cuma peduli angka, data, dan statistik. Banyak anak-anak di bawah umur yang kerja di kebun-kebun tembakau. Jadi kadang, gue merasa guilty saja kalau gue terlibat dalam apapun yang melanggengkan itu.” Poin final dari kawan saya ini adalah implikasi yang jarang kita perhatikan. Secara tidak sadar, kita mengamini brand message mereka dan apa yang mereka wakilkan sebagai industri. Kita memberi angin bagi industri yang memiliki catatan hitam eksploitasi terhadap pekerja anak.

Sentimen kawan saya ini memang cukup mulia dan tidak umum dalam industri, tapi keberadaannya harus diakui. Sebagai publik, kita telah mengamini brand message mereka tidak hanya dalam konteks acara tertentu, tapi dalam apa yang mereka lakukan secara keseluruhan. Karena kecintaan kita terhadap musik, kita telah membiarkan industri rokok menjadi bohir, menjadi sugar daddy bagi industri musik.

Relasi Kuasa yang Timpang?

Sekarang kita meninjau praktiknya. Saya telah menjalin kerja sama dua kali dengan industri rokok sejauh ini, angka yang amat mungil bila dibandingkan kawan-kawan saya di entitas lain yang sudah bertahun-tahun dan lusinan acara dengan industri rokok. Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa saya bukan sepenuhnya menentang kehadiran industri rokok dalam musik, melainkan khawatir dengan sustainability dari praktik-praktik yang sedang dijalankan saat ini.

Selepas kerja sama, saya merasa gamang. Satu brandmenunjukkan tingkat legalitas yang tinggi. Saya merasa sedang berbisnis dengan perusahaan multinasional. Sementara di brand lain, saya mendapat perlakuan yang tidak jelas dan praktik tanpa kontrak, hanya gentleman’s agreementtanpa hak dan kewajiban yang jelas. Namun, saya berhasil bernegosiasi agar branding mereka di acara saya tidak gila-gilaan. Puji syukur, gelaran saya bebas dari lampu neon dan SPG.

Berdasarkan pengalaman saya, pada akhirnya mereka cukup dermawan dengan dana yang digelontorkan. Saya jadi sepemahaman dengan ungkapan Ekrig bahwa pelaku industri musik sekarang harus memanfaatkan “dukungan” rokok dengan baik. “Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana caranya para pelaku industri musik bisa mempergunakan peluang yang dihadirkan oleh industri rokok tanpa kehilangan diri mereka sendiri,” tuturnya.

Pelaku industri musik skala kolektif kecil hingga korporat sekalipun bisa bekerja sama dengan industri rokok karena mereka akan dengan senang hati mengambil hampir semua kesempatan yang ada. Ingat, hampir semua festival musik tahunan papan atas di negeri ini masih ditempeli brandingrokok. Jika itu tidak cukup untuk menggambarkan hubungan industri musik dengan rokok, entah apa yang bisa. Sebagai pelaku industri, kita perlu cermat melakukan give and takedan, yang terpenting, tidak tergantung pada dukungan industri rokok.

Rasanya, mustahil bagi musik independen untuk terbebas dari industri rokok, setidaknya dalam waktu dekat. Namun, pada satu titik, hubungan antara sugar baby dan sugar daddy-nya ini perlu dievaluasi ulang secara seksama. Kedua industri ini memperlakukan satu sama lain sebagai sapi perah. Meski dalam relasi kuasa ini, apakah posisi tawar mereka setara tentu dapat dipertanyakan lebih jauh lagi.

Hingga kini, industri rokok sebagai sang sugar daddymasih menganggap musik sebagai lahan yang menguntungkan. Namun industri musik, seperti kebanyakan sugar baby, perlu bertumbuh dewasa. Kita akan menua dan tak lagi segar dan sang sugar daddypun dapat meninggalkan kita bagi sugar baby yang lain. Industri kreatif bukan hanya musik dan industri rokok juga telah bereksperimen dengan memberi sokongan dana bagi pameran seni rupa maupun acara sastra. Siapa yang bisa menjamin bahwa dukungan industri rokok di musik akan terus bertahan? Saya pesimis model kerja seperti ini dapat sustainabledalam jangka panjang.

Jangankan beranjak dari industri musik, jika industri rokok memutuskan untuk berganti model, apa konsekuensinya? Dengan model ini saja, entitas seperti organizer, content creator, media musik, dan musisi praktis bergantung pada dukungan rokok. Jika industri rokok menemukan strategi pemasaran lain atau bahkan angkat kaki sepenuhnya dari industri musik, apa yang bisa mereka lakukan? Lebih jauh lagi, apa yang bisa kita lakukan sebagai publik?

Mungkin, akhirnya kita akan berpisah dengan lampu neon dan SPG. Namun, kita juga bisa kehilangan kolektif dan acara yang mungkin tidak dibuat oleh rokok, tapi menerima dukungan rokok secara tidak langsung. Dalam relasi kuasa yang timpang ini, risikonya tentu lebih berat bagi satu pihak ketimbang pihak lainnya.

Jika skenario ini terjadi, lantas apa yang harus dilakukan? (*)

Argia Adhidhanendra. Salah satu inisiator Noisewhore, zine dan kolektif yang telah mendatangkan berbagai band internasional seperti Peach Pit, Fazerdaze, dan Unknown Mortal Orchestra.

‘Support Indonesian Punks’ Muncul di Facebook

Posted in Uncategorized on 3 Maret 2012 by propagandhi

Penangkapan anak-anak punk di Banda Aceh mengundang simpati dari komunitas punk internasional. Di situs jejaring sosial Facebook, muncul acara Support Indonesian Punks yang digagas seorang punk asal Swedia, Tom Holmquist.

“Saya mulai membuat acara itu kemarin. Saya membuatnya untuk menyatukan seluruh anak-anak punk dan menunjukkan dukungan kami terhadap anak-anak punk yang ditangkap di Indonesia,” ujar pemilik akun Tom Tuesday Kaos tersebut melalui pesan di Facebook, Kamis, 15 Desember 2011.

Pada akhir pekan lalu, sekitar 65 anak punk ditangkap polisi saat menggelar konser di Taman Budaya, Banda Aceh. Mereka kemudian ditahan dibawa ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, untuk dibina. Di sana mereka dibina dan awal pembinaan dengan menceburkan mereka ke kolam. Rambut ala Mohawk mereka juga dicukur plontos dan yang perempuan dipotong pendek, ala polisi wanita.

Holmquist, 25 tahun, membuat acara Support Indonesian Punks di Facebook kemarin. Dalam foto profil acara tersebut, tertera tulisan “Punks Not Dead”. Hingga berita diturunkan, sebanyak 1.918 orang mendukung acara tersebut.

Holmquist memilih membentuk acara Support Indonesian Punks agar bisa mengundang banyak orang. “Acara lebih baik karena Anda bisa mengundang orang-orang. Kalau membentuk halaman (pages), Anda tidak bisa mengundang orang-orang,” kata Holmquist.

Menurut Holmquist, anak-anak punk di Swedia juga bakal menggelar sebuah acara yang didedikasikan untuk anak-anak punk Aceh yang ditangkap. Acara tersebut bertajuk Punk @Teen Dream yang akan digelar di Gothenburg, 17 Desember. Salah satu dari delapan band yang bakal tampil di acara tersebut adalah The Screwthis yang dimanajeri Holmquist.

Selain menggelar konser, Holmquist mengajak orang-orang yang peduli dengan masalah tersebut di dunia untuk mengirimkan surat ke Kedutaan Besar Indonesia terkait masalah tersebut.

Ia sendiri telah mengirim surat ke Kedutaan Besar Indonesia di Stockholm. Dalam surat itu, Holmquist menilai, “Tindakan polisi Aceh salah dan seharusnya anak-anak punk tersebut dilepas.”

Holmquist juga mengajak band-band punk di seluruh dunia untuk bersatu memprotes perlakuan polisi Aceh terhadap anak-anak punk di Aceh.

Pasar Malam dan Sejarah Yang Tak Runtut (Catatan Sana-sini dari FMK 2008)

Posted in Uncategorized on 24 Mei 2011 by propagandhi

Festival Malang Kembali (FMK), sebuah acara yang mungkin menjadi khas bagi kota Malang pada tahun-tahun terakhir ini. Khas bukan karena tidak bisa digelar di luar daerah Malang, tapi lebih karena muatan acaranya yang sepertinya memang harus ber-‘bau-bau’ Malang-an. Acara dengan format serupa ini bisa saja digeber dimanapun, dan namanya juga bisa berubah-ubah, misal Festival Surabaya Kembali, Festival Dorce Gamalama Kembali, apapun. Dengan slogannya: Sedjoeta Tradisi Satoe Aksi, digelar mulai tgl. 22-25 Mei di seantero Djalan Idjen, dari pagi sampai tengah malam, FMK 2008 menampilkan banyak sub-acara: Panggung Rakjat, menampilkan wayang (topeng, kulit, orang), ludruk, ketoprak, tari, musik (gambus, qasidah, mocopat, kerontjong); Workshop tari malangan dan klasik, topeng, batik, keramik, gerabah, wayang, kaligrafi, keris; Pameran benda purbakala, artefak, keris dan benda pusaka; Oepatjara Adat, ruwatan akbar, petik panen, jamasan keris; dan pastinya ada Pasar Rakjat, menyuguhkan aneka kuliner, jajanan lawas (bukan basi!), mainan, arsip, kerajinan, keterampilan nudjum, ramalan, pijat dan pengobatan tradisi. Dan jangan lupa hubungi saya kalo kapan-kapan kamu mau berlibur ke Malang, saya bersedia jadi guide untuk tour kamu.. :p
Mungkin ini ada hubungannya dengan rangkaian ritual perayaan HUT kota Malang, yang jelas pas bulan-bulan April/Mei/Juni tiba-tiba berhamburan sekali acara-acara yang sifatnya massal. Liat saja, hanya selang satu-dua hari sebelum FMK, di lokasi yang masih satu area, tepatnya di seputaran kompleks Perpustakaan Umum Kota Malang, ada (Festival) Malang Membaca, Pameran Buku yang Exotic & Dahsyattt..! (begitu kata brosurnya). Sub-acaranya tipikal acara-acara festival buku. Kemudian, acara serupa digelar lagi dengan lokasi berbeda, kali ini dengan judul Islamic Book Fair 2008, kalo gak salah ini tahun ke-empat acara tersebut eksis. Masih ada juga, Malang Hi-Tech Show. Dari judulnya saja kita sudah bisa membayangkan bentuk dan format acaranya, lokasinya ada di Kompleks Pasar/Mall di tengah kota. Dan masih banyak lagi. Banyak tema, banyak format, baik yang rutin maupun temporal.
Tapi kali ini kita gak ngomongin banyak acara tersebut, kita lebih khusus menginjakkan kaki pada FMK. Apa coba kesan pertama kali? Ampuun, antriannya itu lho. Mungkin karena saya dan kawan-kawan datang tepat pada saat peak seasonnya. Parkiran penuh, jalan di area dengan kecepatan ala kura-kura. Bergerombol serasa di Mekkah, tapi dengan Ka’bah-Ka’bah yang justru berjejer rapi dengan penuh logo sponsor menawarkan berbagai komoditas berbau ‘sejarah’ di pinggir-pinggir jalan utama. Sementara pada lingkaran taman kota dimana arus pusaran massa berputar telah dibangun panggung-panggung untuk menampilkan banyak atraksi seni/budaya. Untung arus itu tak perlu berputar tujuh kali seperti Thawaf pada ritual Haji. Secara umum pemandangan masih seperti tahun kemarin. Adakah kerinduan yang diam-diam menyelinap? Ah, sepertinya tidak. Saya sebenarnya juga gak tau kenapa saya datang ke sana. Mungkin panitia secara diam-diam pernah menanamkan semacam software di kepala saya, dan lalu mereka tinggal ’klik’ mengaktifkannya melalui iklan-iklan di koran, pamflet, dan poster, serta lewat kabar dari mulut ke mulut, sehingga saya mau tidak mau harus datang ke sana memenuhi panggilan. Entah mau ngapain nantinya, yang penting masuk dan menjejal-jejalkan diri ke arena.
Pasar dan Sejarah. Dua hal yang menonjol di venue serta dua hal yang jelas berbeda. Dan Dinas Pariwisata Kota Malang, ya kalau tidak salah dengar ini adalah proyek rutin mereka, secara inovatif dan mengagumkan telah menggabungkan kedua dunia itu pada sepanjang jalan yang memang memiliki ‘pasar’ dan ‘sejarah’ tersendiri di kota Malang. Luar biasa. Dan ini sudah berjalan pada tahun ke-tiga semenjak pementasan yang pertama pada 2006 yang lalu.
Pasar Malam
Berjejal-jejal dengan banyak sekali manusia, membuat saya agak sedikit heran sekaligus miris. Apa coba yang dicari orang-orang itu di sini? Mungkin banyak yang seperti saya, mau gak mau akan datang jua, karena entah.. Dan saya sebenarnya juga tidak terlalu tahu apa ekspektasi saya sebelumnya. Duh, software itu mungkin sejenis virus ajaib ya, benar-benar tak bisa dihindari. Hingga akhirnya saya sadar: hei ini kan pasar! Kenapa tiba-tiba saya bilang FMK adalah pasar? Lha kalo terlihat ada lapak-lapak dengan aneka barang dan ada banderol harganya kan berarti mereka sedang berjualan dan kalo kemudian setiap orang yang interest terhadap barang-barang tersebut harus melakukan pembelian, melakukan transaksi, apa coba namanya kalo bukan pasar? Dan ya, ternyata FMK tepatnya adalah sebuah pasar malam! Pasar yang menu utamanya digelar di malam hari. Saya baru nyadar! Tapi, pasar, tak peduli siang atau malam, tetap saja adalah pasar. Kalaupun ada kemasan dan wujud yang berbeda, itu kan hanya bungkusnya saja. Pasar toh bisa berdinding apapun: gedhek anyaman bambu, triplek, styrofoam, bahkan beton, dan.. bukan seperti itu maksud saya. Pasar bisa dikemas dengan bungkus apapun: musik, sex, pendidikan, agama. Atau juga seni, dan revolusi, apapun. Dan kali ini kita punya sebuah pasar dengan bungkus serta dekorasi berupa sejarah.
Menarik sebenarnya, untuk bicara tentang pasar sejak kemunculannya ribuan tahun silam. Sejak era barter mulai terkikis dengan adanya standar mata uang, hingga pasar bukan lagi semata arena bertukar komoditas. Banyak hal bisa bermain di dalamnya. Dalam sebuah sistem modern yang kita sebut pasar, masing-masing bagian dari produksi, distribusi, konsumsi, adalah bagian-bagian yang bisa dikatakan terpisah dan tak perlu saling kenal satu sama lain.
Pasar hari ini bukan semata aktivitas pertukaran kebutuhan ekonomis. Pasar adalah tentang arus. Tentang trend, mode, kegemaran, kecenderungan. Tentang rating, tentang gerombolan-gerombolan, dengan segala terminologi ‘life style’ semu nan absurd yang sanggup membuat kita kehilangan harga dan kontrol atas diri. Segala hal harus dijual, dan terutama dibeli, atas nama trendy, ‘want’ mengesampingkan ‘need’. Keinginan melampaui kebutuhan. Di dalam pasar jangan mengharapkan segala hal yang sakral, spesial, dan membangkitkan hasrat personal. Karena yang substansial, kalaupun itu pernah ada, di sana akan berujung pada entitas yang namanya duit.
Kalaupun acara kemarin nampak rame dan terjadi antrian disana-sini, antrian yang terjadi jelas berbeda sama sekali dengan antrian semacam antrian sembako, minyak, bahkan BLT. Ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’ itu tadi. Lalu, masih adakah interaksi yang manusiawi? Semacam interaksi sederhana yang bermula dari sebuah antusiasme untuk berkenalan dengan seorang gadis, hanya karena merasa sama-sama manusia –kan wajar manusia tertarik dengan sesama manusia,– bukan seperti antara gadis berlabel spg yang sibuk berbasa-basi belaka dengan calon konsumen produknya, bukan interaksi seperti calon pembeli yang antusias pada sewujud barang dagangan belaka.
Ah, pasar adalah tentang jual dan beli. Manusia dan pihak-pihak yang ada bertemu untuk aktivitas jual dan beli. Hampir tak ada yang namanya interaksi humanis antar manusia. Apalagi dari kacamata produsen. Segala hal harus dipermak di dalam salon dengan biaya serendah-rendahnya untuk kemudian dikemas menjadi komoditas siap jual dengan harga setinggi-tingginya. Bukannya apa-apa, memang seperti itulah bisnis yang dijalankan secara efektif. Walaupun para pekerja, staf, karyawan, segala macam buruh, selalu ada di dalam lingkaran ‘biaya yang serendah-rendahnya’ itu, sedangkan pihak investor akan selalu menuntut ‘jual dengan harga yang setinggi-tingginya’. Masalah klasik memang.
Pasar hari ini tidak butuh spontanitas atau antusiasme. Hanya butuh konsumer yang hanya mau mengerti tentang bagaimana membeli, penggemar dan pengikut fanatik mendekati fasis serta penikmat pasif sejati. Kita terjerembab pada budaya konsumtivisme. Bukankah sebenarnya ini bisa dibilang sebagai pemerkosaan, beratasnamakan cinta..!
Dan, saya belum tahu apa hal ini masuk dalam kurikulum materi pelajaran ekonomi di sekolah-sekolah, kita berada dalam suatu wujud pasar yang melampaui ruang dan waktu: pasar mutakhir beralaskan liberalisme, kebebasan! Wujud pasar yang bernama neo-liberalisme, benar-benar dihadirkan lewat jargonnya: pasar bebas! Dan liberty, kebebasan, cuma milik mereka yang mampu mengakses modal. Modal yang entah ada di belahan bumi yang mana. Dan kita menjadi terlalu sibuk melarikan diri, melupakan diri, melepaskan diri, melenyapkan diri, ajeb-ajeb, mabuk alkohol di dalam club, berserakan di trotoar.
Sejarah Yang Tak Runtut
Hei, di acara FMK yang sama tahun 2007 lalu, Pak Walikota Malang pake kostum tuan tanah! Tahu kan, baju semacam safari dengan banyak saku gombong di depannya, dengan topi bulatnya yang khas dan berkelas itu. Saya secara tak sengaja melihat itu di salah satu sudut lokasi acara. Mungkin saja itu dimaksudkan untuk sekedar menunjukkan model pakaian dinas tempo doeloe pada masa kolonial dulu, sekedar berpartisipasi dalam acara. Tapi rasanya kita juga gak terlalu bodoh untuk tahu siapa pada tempo doeloe itu yang berdinas dengan model seragam seperti itu! Atau kita terlupa? Lupa, seperti Pak Walikota Malang yang sering nampak terobsesi pada Ken Arok, sosok jaman feodal yang membangun sistem sosial politik beraroma merah belepotan darah, sehingga datang di acara dengan berkostum dan bergaya seperti tuan tanah. Masa sih kita lupa seperti apakah makhluk yang kita sebut tuan tanah dalam sejarah panjang pertempuran demi pertempuran di indonesia?
Jasmerah!, sabda Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, untuk bisa mengarifi sejarah, belajar banyak dari sejarah. Jika sedikit mengulik metode marxian, sejarah adalah tentang kenyataan hari ini, bagaimana proses kekinian dinyatakan. Tentang bagaimana percaturan dan pembagian ekonomi terjadi. Bagaimana ekonomi diproduksi, didistribusikan, serta digunakan dalam masyarakat. Sehingga sejarah bisa dilihat dari motif-motif politis-ekonomis. Feodalisme-kolonialisme-imperialisme-developmentalisme-postmodernisme, etc, dan bahkan peperangan fisik dengan senjata-senjata berat modern serta naiknya harga BBM di Indonesia hari ini memiliki pondasi sejarah yang sama. Kenapa kita selalu gagal menganalisa sejarah. Kawan saya bilang, sejarah hari ini bukan untuk dianalisa, tapi untuk dijual sebagai barang kenang-kenangan belaka. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, mayat hidup orang-orang korban lumpur Lapindo di Sidoarjo akan laku dijual, semata sebagai artefak dan barang kenang-kenangan yang eksotis. Ya, kenyataan sosial  di seantero negeri ini seakan menegaskan penggalan-penggalan tragedi, sebuah episode sejarah yang sebenarnya sama sekali belum cukup usai. Kita bisa bilang, secara kasat mata Indonesia tak pernah benar-benar jadi tuan di atas tanah dan airnya sendiri. Tanah, air, dan bahkan udara di sini adalah komoditas milik entah siapa.
Mungkin Bung Karno sudah menyadari sejak awal tentang negeri yang pernah dibangunnya ini, bahwa akan ada rantai-rantai sejarah yang terpenggal, disia-siakan, dan nampaknya lebih banyak lagi yang memang sengaja dihilangkan. Sejarah yang tak pernah tuntas, dan cepat membuat kita lupa. Benar-benar lupa!
Dan sejarah, jangan harap bisa bangkit dari kubur untuk menggugat. Dengan halaman-halaman sejarah yang berserakan tak beraturan, dengan versi dan blok-blok episodenya masing-masing. Dari gumpalan sejarah yang tak runtut, apa yang nantinya akan bisa kita harapkan untuk dibaca? Apalagi, semata sejarah berupa cinderamata hasil berburu di pasar liberal berbau korporasi.
Pasar Malam dan Sejarah Yang Tak Runtut
Festival-festival semacam FMK, pasar-pasar yang dihadirkan secara sepotong-sepotong, jarang-jarang, sehingga seakan kita dipaksa untuk mencintai dan merindukan, selalu menunggu-nunggunya tahun depan, entah cinta dan kerinduan seperti apa. Tentang hal seperti ini Camelia Malik dengan genit akan langsung menyerang lewat ‘Rekayasa Cinta’nya: Cinta/Kini sudah direkayasa/Diolah-alih/Semanis madu/Hei, tapi berbisa! Tak lupa liat juga pada bagian Bridge: Nuansanya tak lagi melukiskan/Pesona indahnya kemesraan/Jalinannya tak lagi menjanjikan/Masa depan kebahagiaan. Ya, pasar yang dihadirkan sepotong-sepotong, sporadis dan temporal memang tidak benar-benar berhasrat untuk menjanjikan masa depan kebahagiaan. Bukankah cinta yang kita temui di pasar adalah cinta hasil rekayasa. Cinta yang artifisial, tiruan belaka. Semu. Cuma kemasan.
Sama seperti FMK, lewat diorama dan setting artifisial yang dibangun, panitia FMK mencoba menghadirkan sejarah yang runtut (walaupun sebenarnya enggak juga, mengingat dua event sebelumnya di 2006 dan 2007 yang menampilkan visualisasi masa perebutan kekuasaan dengan perangnya yang modern, dan pada 2008 ini seakan tiba-tiba kita terjerembab pada masa dimana Ken Arok sedang membangun dinastinya), dengan maksud untuk memberikan pengetahuan dan pengajaran tentang sejarah kepada para pengunjung serta menanamkan kecintaan akan sejarah dan budaya, paling tidak sejarah dan budaya lokal khas Kota Malang. Malah dengan waktu yang hampir bersamaan, pada 19-23 Mei, di Taman Krida Budaya Jatim sedang digelar event yang juga mencoba menghadirkan sejarah. Merupakan rangkaian kegiatan berjudul Budhaya Adhikara, proyek Dinas P&K Prop. Jatim, acara tersebut salah satunya juga memamerkan benda-benda purbakala, seperti kapak perimbas, beliung, mata panah, fosil-fosil, dan mumi. Suasananya memang tak se-heroik seperti FMK, berhubung acara di TKB tadi memang disegmentasikan dengan format lomba seni/budaya bagi kalangan pelajar.
Tapi apa coba yang bisa kita dapat dari metode pengajaran singkat, instant, bahkan gak sampe satu minggu dalam ruang yang pengap dan gegap-gempita seperti itu? Meskipun toh itu akan diulangi terus setiap tahun sekali? Apalagi kalo aktifitas ’belajar’ itu sendiri sudah jadi komoditas, apa yang kita harapkan? Sedang Museum Brawijaya, yang jelas-jelas merupakan sebuah ruang, dimana jauh semenjak awal sepenggal waktu bernama sejarah memang sengaja dihadirkan bersanding dengan kehidupan kita hari ini, tetap saja menjadi sebuah museum militeris yang kokoh dan menyeramkan.
Hei, liat bagian Reffrainnya: Kalo cinta sudah direkayasa/Dengan gaya canggih luar biasa/Rindu buatan, rindu sungguhan/Susah dibedakan. Lalu bagian ke-duanya: Budi yang kaya/Adat budaya/Tak lagi terjaga. Haha.. sebuah lagu, dengan komposisi dan lirik yang dahsyat!
Mencintai dan menghargai sejarah adalah dengan membuat proyek-proyek pembangunan patung atau tugu-tugu berbalut heroisme atau kepahlawanan. Yah, karena saking banyaknya proyek, ngoyek sana-sini, sampe lupa ada banyak artefak yang ketinggalan, seperti di Blitar: Istana Gebang, rumah kediaman Bung Karno pada masa kecilnya, atau juga Museum dr. Soetomo yang terlantar di Kab. Nganjuk, juga kondisi para pejuang veteran yang cuma ‘disentuh’ untuk event hura-hura nasionalisme pas agustusan. Ngomong-ngomong, Bung Tomo, yang berjasa menjejakkan sebuah hari bertajuk Hari Pahlawan dimana kita berkesempatan mempunyai tambahan satu hari libur nasional itu, makamnya ada di lokasi pemakaman umum biasa lho, bukan di taman makam pahlawan. Sangat menyenangkan sepertinya, hidup dan mati dekat dengan rakyatnya. Mengenang dan menghargai sejarah adalah dengan menjual foto-foto dan posternya dengan harga jauuuuh di atas rata-rata harga produksi, dan membuat perayaan hura-hura berbalut ‘sejarah’ tiap tahunnya. Kita benar-benar meng-harga-i sejarah!
Yang banyak terjadi adalah adanya proses komodifikasi sejarah. Walaupun entah bagian atau versi sejarah seperti apa dan yang mana, tapi tampak ada usaha-usaha untuk membawa sejarah ke dalam pasar. Dan upaya untuk menghadirkan sejarah pada pasar, ya akan cuma jadi barang dagangan belaka. Memang, bisa saja untuk semacam kegiatan ekspresi ’menghias’ arsitektur pasar dengan dekorasi berupa artefak-artefak sejarah. Tapi yang banyak terjadi malah sebenarnya sejarah sedang dimasukkan ke dalam pasar untuk benar-benar diperdagangkan, semacam kasus perdagangan artefak dan benda-benda yang dicuri dari museum di Solo dan dari candi-candi.
Lalu apa coba sebenarnya yang salah dengan hal menjual sejarah? Saya juga tak terlalu paham, tapi sepertinya ada sesuatu yang hilang, itu saja. Memang, seperti banyak subkultur-subkultur urban yang sekarat karena membenturkan diri pada tembok pasar, mengungkit-ungkit sejarah toh juga gak akan menghasilkan apa-apa selain jual-beli semata. Menggelar budaya adiluhung, nanggap wayang, gelar ludruk semalam suntuk sepanjang tahun juga gak menghasilkan ‘apa-apa’, jika yang dimaksud dengan ‘apa-apa’ itu adalah kesejahteraan dan kehidupan layak selayaknya hidup itu sendiri. Tak beda dengan aktivitas puasa yang cuma meninggalkan jejak fisik berupa lapar dan dahaga. Tak akan ada esensi, yang ironisnya, justru hasil-hasil komodifikasi kering seperti itulah yang sebenarnya sedang banyak ditawarkan dan dijual. Belajar banyak babagan sejarah sedari SD sampai ubanan, sepertinya tidak menghasilkan apa-apa, selain dendam kesumat turun-temurun. Sejarah memang menjadi hal yang selalu terperangkap begitu saja dalam kertas-kertas ujian di sekolah-sekolah, menjadi usang di dalam museum, dan cuma terselip pada buku panduan soal-soal ujian CPNS. Coba, bunyi teks Pancasila ada lima saja ternyata tak sedikit yang terlupa. Mungkin ini juga gara-gara trauma indoktrinasi model Penataran P4 ala Orde Baru, sampe kita merasa mual, skeptis, dan sinis setiap memperbincangkan Pancasila.
Mungkin berangkat dari sinilah sehingga panitia menggelar FMK. Seakan ada hasrat tuk kembali ke kampung halaman yang murni dan naif: ada kompleks persawahan, candi-candi, dokar, lampu ublik, sepeda onthel, udheng, gadis desa berkebaya manis sekali, gulali, aroma wedang rondhe anget, wayang-wayangan, sarung dan kaos oblong, penyiar radio di depan mic –sepertinya sedang siaran, nokia, coca-cola, converse, inspired, lho kok ada satgas parpol, dan eh.. ada yang makan burger juga! Ya, hehee.. pengunjung (konsumen) sepertinya memang pihak yang paling susah diatur dalam hal kostum, mungkin sedang jenuh saja dengan aturan dress code yang seperti dipaksakan (sebenernya enggak juga lho..) dan panitia juga tak bisa menghindarkan diri dari sekedar membuat sebuah acara berupa pasar malam! Padahal sudah ada Andjoeran: Hormati Boedaja Sendiri, Pake Boesana Tradisi. Haha.. Anjuran yang aneh..
Mirip seperti ‘fenomena’ ritual mudik, pulang kampung waktu lebaran, dan gak ada perubahan apa-apa setelah balik ke kota, tentu selain tiket yang harganya lebih mahal, kendaraan transportasi yang semakin usang, pohon-pohon yang hilang, polusi menjadi-jadi, polisi yang semakin garang, dan oh.. endonesa negri ngeri, kalo kata Marjinal.
Memakai kostum seperti model eyang-eyang kita toh tak akan menghasilkan sesuatu yang esensial selain sensasi semacam katakanlah ’back to nature’. Kita hanya akan mengalami sebuah jalan-jalan berputar-putar pada setting yang sama yang kita sebut ber-rekreasi, untuk lantas nanti kembali mengeluhkan realitas dengan harga-harganya yang mahal, jalanan macet karena kecelakaan atau banjir dan lumpur yang meluap, polusi dan polisi dimana-mana. Ah.. dan kita meng-amini saja bahwa ternyata kita tidak bisa ber-rekreasi setiap hari, karena sistem yang ada memang tidak menghendaki terbangunnya kreativitas dan segala yang sakral.
Di dalam pasar kiranya sudah sangat radikal dan subversif cukup dengan mengenakan kaos oblong bergambar kepala Che Guevara, dengan berhiaskan taburan pin-pin dan patches beraroma molotov. Sudah cukup adiluhung, hanya dengan mengenakan kostum tradisional berupa beskap dan kebaya, lengkap dengan jarik dan sanggul dan blangkon dan sandal selop dan keris dan apa itu namanya yang disematkan di dada seperti bros. Aroma sakral nan mistis cukup dibangun dengan menyemprotkan parfum beraroma kemenyan atau dupa cendana, lalu mulut komat-kamit, seperti Joko Bodho yang malah membuatnya memang nampak semakin bodho. Orang bodho yang dibesarkan oleh pasar bernama TV. Atau  sebenarnya adalah orang yang sangat pintar sekali membaca wolak-walik-nya jaman, melu ngedan biar keduman. Oh, jangan lupa rambut mohawk warna-warni atau potongan dreadlock (gimbal) penuh variasi sekarang bisa dipesan lengkap dengan layanan delivery order. Sangat cepat dan trengginas. Bahkan Mahatma Gandhi yang terkenal itu sebenarnya sering juga terpergok sedang asik menikmati beefburger di dalam McD. Hanya saja kru-kru acara gosip itu pura-pura saja dalam perahu, dasar kura-kura tidak tahu!, sehingga mereka tak pernah meliput dan membahasnya mati-matian di acara gosip mereka yang konyol itu.
Sepertinya antara segala subkultur urban hari ini dengan budaya-budaya warisan dan sejarah, masing-masing berdiam di ruangan yang berbeda. Dan jika kebetulan kita berada di salah satu ruangan itu, kita akan cuma bisa menonton ruangan yang lain seperti kita menontoni ikan berenang dan mengambang di balik kaca aquarium tebal. Serasa ada keterpisahan akut antara apa yang kita sebut budaya dengan kelakuan konyol sehari-hari. Untungnya, (atau sialnya?) itu terjadi tidak hanya di sini, liat saja misalnya, kenapa Amrik yang punya banyak sekali hero, mulai jamannya Rambo, Captain America, Superman, sampe jaman SUM 41 sudah jadi rockstar dan ketika Barack Obama dengan Hillary Clinton sedang berebut tiket sejarah USA, tetap tidak bisa mencegah lebih dari 4000 (versi birokrasi) warga negaranya, yang dipaksa jadi serdadu membela keyakinan sekelompok orang berkostum bendera di White House, meregang nyawa di !raq.
Buku sejarah dengan pijakan kapan saja dan dari mana saja selalu menceritakan kisah-kisah yang sama, cuma tekstur adonan, detail-detail dan variannya yang berbeda, kita tetap ada pada pusaran yang sama. Mulai jaman nenek moyang dan kakek-kakek kita, dari ayah kita dan kita sendiri hari ini, gagal mencari celah untuk keluar.
20 Mei 2008, tepat 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Saya rasa saya tak harus bicara tentang apa yang terjadi seabad yang lalu, yang jelas di masa lalu Kebangkitan Nasional bisa digerakkan secara menyeluruh karena berbagai unsur dalam masyarakat secara massif mampu bersatu untuk mewujudkan kemerdekaan. Tapi kini sebagian unsur itu justru dipinggirkan, bahkan dianggap sebagai beban atas nama Pembangunan Nasional. “Demokrasi itu berbicara, bukan tutup jalan. Kalau menghalangi jalan, tangkap. Itu perintah Presiden”, itu kutipan dari Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla menanggapi aksi penolakan kenaikan harga BBM yang kemudian bentrok dengan ratusan aparat yang menyerbu masuk ke dalam Kampus Universitas Nasional Jakarta, 24 Mei kemarin. Sayangnya saya kehilangan hasrat untuk mencatat kutipan dari orang yang sama tentang aksi serbuan sepihak fasis FPI pada massa AKKBB pas acara apel akbar di kompleks Monas, 1 Juni kemaren.
Ya, kita gagal menarik pelajaran dari sejarah! Dan akibat tak pernah benar-benar bisa mengaca dan belajar dari sejarah, kita menjadi bangsa yang bebal, selalu terperosok dengan mudahnya pada lubang-lubang yang sama, berkali-kali mengunyah jarum yang sama. Atau kita bukan lagi bebal? Mungkin kita sudah kebal! Selalu menduduki peringkat-peringkat teratas sebagai negara dengan tingkat korupsi paling parah, tak cukup untuk menegaskan bahwa bangsa ini butuh untuk diformat ulang. Dan sialnya, kita selalu terjebak pada romantisme sejarah sebagai bangsa yang besar. Romantisme kebesaran yang saat ini coba ditunjukkan dengan wujud pasar mutakhirnya: mall-mall dengan fisiknya yang modern dan berkelas, yang dibangun lewat hutang-hutangnya yang besar, yang harus ditanggung oleh semua orang, padahal cuma segelintir blok yang bisa turut mengunyahnya. Banyak pasar dibangun di atas struktur dan hukum yang sama, yang tak menghendaki kesempatan pembagian aset. Sehingga ruang pasar hanya dimiliki oleh segelintir blok, yang menuntut profit setinggi-tingginya, apapun caranya, bagaimanapun prosesnya. Dan dalam praktiknya memang hukum pasar itu sendiri yang diterapkan. Kalau kita bukan bagian dari pemilik atau peserta pasar, ya berarti kita adalah pihak di luar kuasa hukum. Bisa jadi cuma sekedar korban. Ya, korban perasaan lebih seringnya.
Lihat saja, tanpa pernah benar-benar tahu tentang apa yang terjadi pada bursa saham Dow Jones di belahan bumi lain sana, tiba-tiba saja kita ditimpa satu jenis bahasa baru: Krisis Moneter! Dan bagaimana coba kita akan menjelaskan pada diri sendiri kenapa harga tempe yang sekian abad sudah akrab dengan sistem pencernaan perut kita, bisa tiba-tiba harganya tak terjangkau. Belum lagi geliat harga-harga komoditas bahan bakar. Atau, sementara salah satu pemilik dari Bakrie Group bahkan selain terdaftar menjadi menteri dalam pemerintahan SBY-JK, juga merupakan orang terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara –di sini terlihat bagaimana berbahayanya ekonomi yang berkelit-kelindan dengan kekuasaan!,– ribuan korban bencana luapan lumpur di Sidoarjo tak pernah jelas nasibnya. Bisa saja sedetik, sehari lagi, tiba-tiba kita sendiri yang akan lebih terkejut lagi dengan kenyataan-kenyataan menyebalkan yang justru akan terjadi di depan rumah kita, pada diri kita sendiri.
Seorang penyair dan budayawan, D. Zawawi Imron, pernah mengatakan ‘..kita hanya akan mendapatkan abunya sejarah, bukan apinya sejarah’. Sedang kita cukup tahu abu sejarah di negeri ini rasanya pedih dan perih! Sialan memang..
Btw, ngomong dan nulis nyinyir seperti ini rasa-rasanya memang sangat mengasyikkan sekali. Cobalah! Biasanya tulisan seperti ini bisa dijual, harganya mahal! Hahaa..
Terakhir, namanya itu lho: Festival Malang Kembali. Duh, ngerti maksud saya kan?! Seakan kita sedang merayakan kemalangan bertubi-tubi..
Sepertinya kita butuh sharing untuk bisa bikin semacam ‘acara-acara’ atau sistem alternatif. Sedikit meredakan abu, kata kawan saya, dan mencoba lagi menyalakan api itu. Mungkin gak perlu yang terlalu masal dan muluk. Paling tidak, ayolah kita menjadi bagian dari sejarah. Mungkin akan lebih asik kalo kita lompat dulu dari sini.. dan, hup.. ya, kita sudah keluar dari arena FMK dengan menghirup nafas panjang, dan menghempaskannya keras-keras. Kita masuk ke level selanjutnya: kembali ke peradaban! Peradaban yang tetap saja keras, dengan pasarnya yang nyata lebih buas: neo-liberal, pasar bebas! Wah, abunya ternyata sudah menyebar kemana-mana!

Manfaat sampingan dari Coca Cola&sejenisnya.

Posted in Uncategorized on 27 Agustus 2009 by propagandhi

Untuk membersihkan toilet :
Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam toilet.Tunggu sejam, kemudian siram sampai bersih. Asam sitric dalam Coca-Cola menghilangkan noda-noda dari keramik.

Untuk membersihkan karburator mobil :
Campur sekaleng Coca-Cola ke dalam karburator.Panaskan mesin 15-30 menit. Dinginkan mesin, setelah itu buang air karburator.Anda akan melihat karat yang rontok bersama air tersebut.

Untuk menghilangkan titik-titik karat dari bumper chrome mobil :
Gosok bumper dengan gumpalan alumunium foil yang direndam dalam Coca-Cola.

Untuk membersihkan korosi dari terminal aki mobil :
Tuangkan sekaleng Coca-Cola di atas terminal aki untuk membersihkan korosi.

Untuk melonggarkan baut yang berkarat :
Gosokkan kain yang direndam dalam Coca-Cola pada baut yang berkarat .

Untuk menghilangkan noda-noda lemak pada pakaian :
Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam tumpukan cucian yang bernoda lemak, tambahkan detergent, dan putar dengan putaran normal. Coca-cola/Pepsi akan menolong menghilangkan noda lemak.

Coca-Cola juga membersihkan kabut pada kaca depan mobil. Kita minum
Coca-Cola/Pepsi!Tentu saja juga untuk membersihkan sistem kita.
Lagipula kita semua membayar untuk itu.

Untuk Perhatian Kita PH rata-rata dari soft drink,a.l. Coca-Cola & Pepsi adalah 3.4. Tingkat keasaman ini cukup kuat untuk melarutkan gigi dan tulang! Tubuh kita berhenti menumbuhkan tulang pada usia sekitar 30th.
Setelah itu tulang akan larut setiap tahun melalui urine tergantung dari tingkat keasaman makanan yang masuk. Semua Calcium yang larut berkumpul di dalam arteri, urat nadi, kulit, urat daging dan organ, yang mempengaruhi fungsi ginjal dalam! membantu pembentukan batu ginjal.

Soft drinks tidak punya nilai gizi (dalam hal vitamin dan mineral). Mereka punya kandungan gula lebih tinggi, lebih asam, dan banyak zat aditif seperti pengawet dan pewarna.Sementara orang suka meminum soft drink dingin setelah makan, coba tebak apa akibatnya?

Akibatnya?
Tubuh kita mempunyai suhu optimum 370 supaya enzim pencernaan berfungsi.
Suhu dari soft drink dingin jauh di bawah 37, terkadang mendekati 0.

Hal ini mengurangi keefektivan dari enzim dan memberi tekanan pada sistem pencernaan kita, mencerna lebih sedikit makanan. Bahkan makanan tersebut difermentasi. Makanan yang difermentasi menghasilkan bau, gas, sisa busuk dan racun, yang diserap oleh usus, di edarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Penyebaran racun ini mengakibatkan pembentukan macam-macam penyakit.

Contoh beberapa waktu lalu, ada sebuah kompetisi di Universitas Delhi?

Siapa dapat minum Coca-Cola paling banyak? Pemenangnya meminum 8 botol dan mati seketika karena kelebihan Karbondioksida dalam darah dan kekurangan oksigen.Setelah itu, Rektor melarang semua soft drink di semua kantin universitas.

Seseorang menaruh gigi patah di dalam botol pepsi, dan dalam 10 hari gigi tersebut melarut!

Gigi dan tulang adalah satu-satunya organ manusia tetap utuh selama tahunan setelah manusia mati.

Bayangkan apa yang minuman tersebut pasti lakukan pada usus dan lapisan perut kita yang halus!

Permohonan Kepada Semua Forward kabar ini kepada teman-teman
Untuk menambah kewaspadaan terhadap kegunaan soft drinks.

Dikirim Oleh : Soegiri (Geologi UGM)

Sedikit tentang AREMA.

Posted in Uncategorized on 11 Agustus 2009 by propagandhi

ovan tobing Apa kabar semua?

Hari ini sebuah prosesi telah dirayakan, oleh seluruh warga Malang. Entah di dalam kota, maupun kota-kota lainnya. Ketika 22 tahun yg lalu, nama AREMA disebutkan awal kali..

Kemarin saya juga telah “mensuplai” kaos2 bergambar Singo Edan – AREMA, untuk rekan2 Arema di Bima-NTB (hello Mr. Leak&semua disana). Untuk sebuah acara disana, yg khusus diperuntukan buat AREMA di Bima.

Kita tidak akan bahas AREMA melalui bola, Aremania&Aremanita, maupun yg lain2nya… Kita akan membahas sebuah lagu, yg kiranya akan menjadi anthem tersendiri buat Arek2 Malang. Tulisan ini saya cuplik dari Mr. Ovan Tobing aka O.T. Yang merupakan Jendral Arema, ketika tadi pagi sekitar jam 10an, beliau menceritakan secuil perjalanan lagu semangat buat Arema di sela2 waktu beliau siaran di Radio Senaputra.

Lagu tersebut kiranya pertama kali diminta oleh Alm. Ebes Sugiyono, sebelum Arema dirawat oleh Alm. Acub Zaenal. Alm. Ebes Sugiyono meminta kepada Ucok “AKA” Harahap yg notabene arek Malang, untuk membuat lagu. Supaya ketika Arema bertanding&masuk lapangan, ada lagu yang bisa dinyanyikan&jadi spirit untuk bertanding.

Kala itu OT berkunjung kerumah Alm. Ebes Sugiyono di jalan Diponegoro, hanya seorang diri. Ditemani Mas Yance/Mas Agus (putra Alm.), tape lawas, kopi, pisang goreng mereka ber2 mendengarkan sebuah lagu. Dengan kaset tape ukuran C-60, sebuah lagu diputar berulang kali. Saat itu OT merasa bahagia sekali… Karena lagu tersebut melahirkan spirit&nasionalisme tersendiri buat arek2 Malang&Klub Bola kebanggan mereka… AREMA.

Kenapa juga Ucok yg didaulat untuk membuat lagu? Dikarenakan hawa kota Malang saat itu adalah Hawa Musik ROCK!!

Setelah itu, OT kembali bertugas sebagai penyiar di Radio Senaputra. Yg saat itu masih berada di frekwensi AM, hehehehe… Dengan petuah dari Alm. Ebes Sugiyono untuk menyimpan kaset tersebut&dengan sepeda bebek warna hijau, OT meluncur kestudio.

Baru setelah sekian lama di simpan&radio Senaputra masuk jalur FM, lagu tersebut diperdengarkan lagi. Sebagai opening acara yg di pandu oleh Mr. Elkhepet, dalam radius jam8mlm sampai 10mlm.. Membahas seputar perjalanan AREMA, dengan nama acara “BOS… BAL-BALAN BOSS!!.

GEMPUR, MAJU, TEMBAK… GOLL!!

Sebuah perwujutan AREMA&AREMANIA sebelum masuk lapangan&sebagai spirit kebersamaan…

Lagu tersebut lama sebelum Arema terbentuk oleh tangan dingin Alm. Acub Zaenal, setelah beliau pulang dari tugas sebagai Jendral TNI di Jayapura. Dan sebelum Arema masuk Galatama…

OT juga menambahkan.. Arema sebenarnya lahir di Lapangan Shampoo, sebuah lapangan dekat daerah Comboran/SMAN 5 Malang.

Kala itu, Mr. Derek Sutrisno berniat membuat turnament sepak bola. Yang dulunya di namakan Gala Desa, tapi begitu besar. Karena peserta datang dari Surabaya, Madura&kota2 Karesidenan Malang. Dengan kondisi lapangan yg hancur, mereka memolesnya menjadi lapangan standart sepak bola. Dan perlu diketahui, semua itu tidak direncanakan&merupakan hasil dari rembukan kilat.

Baru setelah itu, Sam Ikul (Lucky Acub Zaenal) menemui OT&meminta datang kerumahnya di daerah Andalas Selatan-kota Malang. Sesampai disana, OT bertemu Alm. Acub Zaenal yang menyuruh OT membuat sebuah klub sepak bola galatama di Malang&terlahirlah AREMA pada tanggal 11 Agustus 1987.

Sedikit mengulas obrolan saya dengan Alm. Ayah saya… Ketika saat itu saya masih kelas 6 SD&masih berdomisili di daerah Polowijen, 3Km arah barat terminal Arjosari.

Bahasa balikan, yg katanya bahasa khas arek Malang… Bukan bahasa gaul yg baru tercipta. Bahasa itu sudah ada sejak Alm. ayah saya bertugas di Batu-Malang, pada tahun 1952. Kala itu beliau bertugas sebagai telik sandi (mata-mata jaman perjuangan), untuk wilayah Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar&Malang. Sedikit yg mengetahui bahasa itu…

Kiranya apa yg saya tulis, bisa menjadikat spirit tersendiri buat kita. Terutama Arek2 Malang… Entah untuk saat ini, atau mungkin juga anak cucu kita kelak. Semoga mereka bangga menjadi AREK MALANG!!

Selamat Ulang Tahun buat AREMA yang ke22, 11 Agustus 2009. Salam satu jiwa, satu kata… AREMA!!

BENARKAH “PUNK in LOVE’ ADALAH STORY?

Posted in Uncategorized on 24 Juli 2009 by propagandhi

Sudah lihat film nasional terbaru gak?

Yang tentang anak PUNK melakukan perjalanan atau istilah kerennya adalah TRAVELING, dari Malang menuju Jakarta.

Kemarin ada beberapa tanggapan serius dari teman-teman scenester, entah lokal maupun luar kota. Yang intinya mempertanyakan pertanggung jawaban ide&sumber cerita dari pembuatan dasar film tersebut.

Seperti bukan sengaja, ketika PUNK sudah menjadi komoditi profit buat orang2 tersebut.

Klo diturut2, saya mendapatkan celah kabar dari beberapa teman waktu ngobrol di rumah. Ide cerita tersebut benar2 kisah nyata atau TRUE STORY.

Tapi kenapa kok PUNK yang di angkat, kok bukan tema yang lain.

Apakah tema misteri yang penuh dengan pocong&sebangsanaya sudah bukan sarana untuk cari uang?

Well… Semua adalah kemunduran.

Cerita itu mengisahkan Antok Celeng, Momon, Pipit&Alm. Yogi, yang melakukan perjalanan dari Malang ke Jakarta. Ada juga cerita yang masuk mengenai Alm. Agus Ahong, yang meninggal karena narkotika.

Terus kita harus bagaimana?

Ya… sisihkan uang jajanmu&siap2 menonton film ini.

Untuk masalah PRO&KONTRA, kita tunggu kabar selanjutnya.

PUNK adalah LADANG MENCARI UANG!!

SEKELUMIT KISAH TENTANG FOOD NOT BOMBS BANDUNG

Posted in Uncategorized on 24 Juli 2009 by propagandhi

Food Not Bombs (FNB) chapter Bandung adalah satu dari afiliasi gerakan otonomus FNB di seluruh dunia yang menyediakan dan mendistribusikan makanan gratis untuk orang-orang yang membutuhkannya.

Kami tidak hanya mendistribusikan makanan khusus bagi orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan, tapi untuk semua orang, termasuk voluntir dan orang-orang yang ada di sekitar area yang menjadi lokasi serving kami…

FNB Bandung adalah chapter kedua yang kami bentuk, setelah chapter pertama telah gagal menemukan bentuknya untuk bertahan karena tidak didukung oleh orang-orang yang cukup solid untuk mampu menyumbangkan sebagian waktu, tenaga dan pikiran yang dibutuhkan agar sebuah kolektif dapat berjalan dengan baik.

Sedikit mengulas mengenai chapter pertama, FNB Bandung mulai beraktifitas memberikan layanan publik dalam hal pembagian makanan gratis sekitar tahun 2004.

Pada awalnya, kegiatan tabling FNB ini mendapat respon yang sangat positif di kalangan teman-teman dari komunitas lain. Termasuk juga komunitas subkultur hardcore punk yang ada di Bandung, karena lingkar-lingkar literasi dalam bentuk zine dan majalah komunitas mereka yang berasal dari luar negeri cukup banyak memberikan informasi tentang gerakan ini.

Yang terjadi kemudian adalah tabling FNB Bandung diasosiasikan menjadi sebuah even pendistribusian makanan gratis di acara-acara musik yang diadakan oleh komunitas subkultur hardcore punk.
FNB punya banyak sekali voluntir yang siap membantu saat serving-yang jumlahnya menyusut setengahnya saat ada salah satu grup musik populer yang sedang tampil-dan bersisa cuma segelintir yang bertahan sampai akhir serving.

Salah satu hal yang menyebabkan kegagalan pada FNB chapter pertama adalah kurangnya distribusi dan pemahaman wacana soal FNB, terutama di kalangan voluntir.

Meski nyaris di setiap even pendistribusian makanan gratis kami selalu membagikan flyer soal FNB, tapi masih banyak di kalangan voluntir sendiri yang bahkan belum memahami apa itu FNB.

Terbukti dengan banyaknya voluntir yang datang hanya sekedar membantu persiapan dan pendistribusian makanan saja, tanpa mengerti kenapa kita mesti mendistribusikan makanan secara gratis dan bahkan kadang merasa tidak perlu terlibat sampai akhir serving, atau ‘melarikan diri’ dari bagian yang dianggap paling merepotkan dalam setiap serving: bersih-bersih.

Hal ini terus berlangsung di setiap tabling yang juga tidak memiliki jadwal rutin.

Meeting yang diharapkan dapat membangun sebuah kolektif FNB yang solid juga hanya ramai pada pertemuan-pertemuan pertama. Sampai akhirnya sisa voluntir yang masih bertahan pun menyerah, dan kegiatan FNB Bandung dibekukan begitu saja.

Pada awalnya kelangsungan FNB Bandung berjalan atas donasi yang didapat pada saat melakukan serving. Sampai akhirnya suatu hari kami mendapat akses donasi sayuran gratis dari sebuah perusahaan pemasok sayuran untuk supermarket. Gudang sayuran yang berlokasi di daerah Lembang ini, menampung sayuran segar langsung dari petani, yang kemudian mereka seleksi dan kemas dalam bungkus-bungkus plastik untuk dikirim setiap harinya ke supermarket-supermarket besar di wilayah Bandung hingga Jakarta.

Supermarket sendiri memiliki divisi quality control yang bertugas untuk menentukan sayuran mana yang layak jual. Sayuran yang tidak lolos seleksi di supermarket lalu dikembalikan lagi pada saat pengantaran suplai sayuran baru, hingga setiap harinya gudang sayur tersebut menerima berkarung-karung sayuran yang berstatus barang ‘return’.

Sebagian dari sayuran tersebut biasanya diambil oleh penduduk yang bermukim di sekitar gudang sayur untuk diolah menjadi makanan yang bisa mereka jual kembali, sebagian mengambilnya untuk dijadikan makanan ternak. Sisa sayuran lain yang masih menumpuk akhirnya dibuang begitu saja karena gudang pemasok sayuran ini tidak memiliki waktu lebih untuk memikirkan masalah baru mereka.

Apa yang harus dilakukan terhadap ‘sampah-sampah’ sayuran tersebut.

Beruntung, FNB Bandung berhasil mendapatkan akses untuk berkenalan dengan pemilik gudang suplier sayur tersebut. Mereka langsung sepakat untuk memberikan donasi sayuran yang tidak lolos seleksi divisi quality control supermarket klien mereka kepada FNB Bandung. Jenis sayuran yang mereka beri cukup bervariatif, dengan kualitas yang masih sangat layak dikonsumsi.

Akses donasi sayuran dari chapter FNB pertama inilah yang akhirnya kami manfaatkan lagi saat muncul ide untuk mengaktifkan kembali kolektif ini. .. Selain akses sayuran yang bisa didapatkan kapan saja FNB Bandung butuhkan, beberapa voluntir juga aktif membangun jaringan hingga akhirnya kami berhasil mendapatkan donasi uang dari beberapa teman yang jumlahnya cukup besar.

Sebagian donasi ini sempat digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh teman-teman, salah satunya untuk mendanai sebuah CD album kompilasi grup-grup musik lokal yang bertujuan menggalang dana untuk mendirikan Crisis Center di Bandung.

Donasi uang ini sempat membeku lama sampai akhirnya FNB Bandung chapter kedua mulai aktif kembali dan secara rutin melakukan serving setiap minggunya.

Chapter kedua FNB telah memulai tabling perdananya pada 1 Oktober 2006, dengan memilih lokasi taman Cikapayang Dago sebagai tempat serving.

Taman yang berlokasi di dekat jembatan layang ini kami pilih karena merupakan ruang publik yang cukup nyaman dan terbuka.

Dan yang terpenting adalah, ada cukup banyak pengemis dan anak-anak jalanan yang berdiam di sekitar lokasi tersebut. Empat kali tabling pertama dilakukan selama bulan puasa, diikuti dengan aksi distribusi pakaian bekas yang didapat melalui donasi yang dikumpulkan oleh para voluntir.

Pada bulan selanjutnya kami mulai mengadakan serving rutin di taman yang sama setiap hari minggu mulai pukul lima sore.

FNB Bandung chapter kedua ini terbentuk atas inisiatif beberapa voluntir yang sebenarnya sudah terlibat aktif dalam chapter sebelumnya. Kami sadar bahwa telah terjadi kegagalan dalam pengorganisiran kolektif yang telah berusaha kami bangun di awal terbentuknya chapter pertama.

FNB tidak hanya sekedar membagi-bagi makanan gratis, tetapi juga ada prinsip-prinsip dasar FNB yang bisa dikembangkan dalam politik hidup harian di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, tanpa harus terjebak dalam sebuah konsep amal.

Kami menolak konsep amal yang biasa melekat dalam setiap aktivitas pendistribusian makanan gratis, karena pola pikir amal telah gagal menemukan inti masalah penyebab kelaparan dan kemiskinan.

FNB juga hadir untuk memprotes sistem yang telah gagal memberikan kebutuhan dasar bagi orang-orang. Di saat seharusnya bisa ada cukup uang untuk membuka akses-akses pangan bagi semua orang, negara justru lebih banyak membelanjakan uang nya untuk pembelian persenjataan militer.

Tetapi berbagai argumen akan dilontarkan tentang betapa pentingnya semua aliran anggaran negara demi pembelian peralatan militer tersebut, yang kemudian menjadi sangat jelas bagi kami bahwa kita tidak bisa mengharapkan pemerintah membantu kita dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup kita seperti masalah pangan-maka kita sendirilah yang harus saling membantu.

FNB sendiri memiliki beberapa prinsip, yaitu pengambilan keputusan lewat konsensus, anti-kekerasan, otonomus, egalitarian dan vegetarianisme.

Satu hal yang cukup sulit adalah saat kami ingin mengadopsi prinsip-prinsip dasar yang cenderung anarkistik ini dalam sebuah gerakan di Indonesia karena terbentur watak dan mental masyarakat kita yang terbiasa dengan struktur kekuasaan yang patriarkis, hirarkis dan bersifat “menunggu perintah dari atas”.

Namun sejalan dengan keberlangsungan serving yang berkala setiap minggunya, masing-masing voluntir dengan cepat dapat belajar untuk mengambil peran masing-masing tanpa perlu ada seseorang untuk memberikan perintah.

Kami menyadari bahwa prinsip konsensus sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah grup yang solid, agar setiap individu dapat berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan, dan masing-masing individu tidak merasa mendapatkan tekanan.

Pada dasarnya, FNB Bandung mendistribusikan makanan vegetarian berupa jenis-jenis sayuran yang diolah tanpa menggunakan produk binatang, yang disajikan dengan nasi dan tambahan buah-buahan sesuai dengan donasi yang diperoleh.

Namun, dalam beberapa kali serving kami juga pernah menyajikan makanan olahan dari produk daging sebagai tambahan, yang juga didapatkan dari donasi. Mungkin hal ini cukup bertentangan dengan prinsip FNB, tapi kami percaya bahwa pendistribusian makanan jauh lebih penting, karena kami juga selalu membuka diri untuk semua donasi yang diberikan, termasuk makanan yang sudah diolah.

Meski sebagian dari voluntir kami adalah vegetarian, kami juga tidak memaksakan bahwa semua orang harus menjadi vegetarian dan membuat sebuah prasangka bahwa makan daging adalah hal yang salah. Namun kami tetap mendukung prinsip-prinsip vegetarianisme untuk alasan politik dan ekonomi.

Terlepas dari itu, semua makanan yang kami olah sendiri tetap bebas dari bahan daging.

FNB tidak mengambil keuntungan dari semua aktivitasnya. Voluntir yang terlibat tidak pernah dibayar. Namun ada pos-pos pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap minggunya untuk proses pengolahan makanan, terutama bahan-bahan tidak kami dapat dari donasi seperti bumbu-bumbuan, minyak goreng, hingga air minum.

Saat ini kami sedang berupaya mendapatkan donasi tambahan yang dibutuhkan untuk kelangsungan kolektif ini. Beberapa alternatif untuk menggalang donasi baru sudah didapatkan, antara lain memproduksi merchandise berupa kaos dan pin FNB yang dijual sebagai proyek penggalangan dana.

Kami juga memiliki rencana untuk mengadakan acara musik akustik keliling yang akan dibantu oleh beberapa grup musik lokal yang sudah sedari awal mendukung kami.

Untuk saat ini, semua kegiatan pertemuan, pertemanan dan perencanaan yang menyangkut kegiatan FNB masih dipusatkan setiap hari minggu, selama proses pengolahan makanan, serving dan akhir kegiatan tabling. Sejauh ini, untuk menjaga konsistensi, aktivitas distribusi makanan selalu diadakan di taman Cikapayang.

FNB Bandung selalu membutuhkan orang-orang baru yang dapat membantu komunitas ini dalam peluasan komunitas lewat kampanye dan promosi; pembuatan poster dan flyer; mengambil sayur-sayuran; memasak; serving; mengorganisir kegiatan; dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan.

Kalau kamu tertarik untuk menjadi bagian dari gerakan ini, atau sekedar mencari informasi mengenai FNB Bandung, hubungi kami. ..

Kamu dapat menghubungi FNB Bandung dengan berbagai cara:
-datang langsung ke lokasi serving kami di Taman Cikapayang Dago, Bandung setiap hari Minggu sore ..
– kirim email ke fnb.bdg@gmail.com ..
– bergabung ke dalam mailing list FNB Bandung di http://groups.yahoo.com/group/fnbbdg/ untuk mendapatkan berita-berita dan laporan serving.

*)saya curi dari seorang teman.
FOOD NOT BOMB but BOMB IS FOOD !!

STOP THE WAR!!!Boycott McDonald’s and Starbucks!!!

Posted in Uncategorized on 21 Januari 2009 by propagandhi

McDonald’s and Starbucks have today announced that they will be donating all profits from now until Sunday to Israel war.

Also, the producers of Adam Sandler’s new movie Bed Time Stories will be donating their profits to Israel.

Be informed, and let others know not to contribute and refuse to support these monsters that believe in killing innocent civilians.

Boycott McDonald’s and Starbucks!!!

Also don’t take your kids to see a movie that promotes violence by association.

Together we can make a difference! Please pass this email to as many people as you know.

Thanks

Ada apa di SAMARINDA?

Posted in Uncategorized on 21 Januari 2009 by propagandhi

Halo bro… apa kabar di Malang? Sudah baca edisi terbaru gak? Sori aku belum bisa kirim hasil cetaknya kesana, dikarenakan kemarin ada human error ketika proses cetak. Jadinya ya agak terlambat, ha..ha..ha.. Tolong masukkan di-blog-mu ya… Cheers from Samarinda Riot Punk.


Setelah kita lakukan survei mendalam dengan 12 SMA/SMK di Kota&Kabupaten di Samarinda, kita mendapatkan hasil yang mencengangkan.Dimana 36 responden mengatakan pernah melakukan hubungan intim&sisanya hanya petting serta raba-raba saja.

Jawaban terbanyak, mereka melakukan waktu di sekolah. Ketika jam pelajaran olahraga atau waktu istirahat. Bermacam2 tempat yang dipakai, tapi rata2 mereka memilih wc sekolah&pojok kantin untuk berbuat mesum.

Jawaban yang kedua adalah dikerjakan di rumah, saat orang tua mereka tidak ada&ada yang di mobil ataupun menyewa hotel/losmen. Yang paling ironis, 85% menyatakan tidak memakai pengaman saat melakukan…

Benar2 diluar dugaan kita, sebuah sarana pendidikan telah menjadi ajang perang syahwat.

Survei awal tahun ini menurun 32% dari tahun 2008&hasil dari survei sudah kita serahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, supaya dijadikan koreksi&acuan kedepan.

Semoga sekolah benar2 menjadi sarana pendidikan, bukan sebagai ajang maksiat&prostitusi belaka.

from editor! Tulisan ini sudah saya edit, dikarenakan terlalu panjang&tidak  mengurangi nilai eduaction yang ada. Tulisan juga sudah diterbitkan di harian Surya, pada tanggal 21 Januari 2009. Terima kasih buat XanjingXbelangX di Samarinda&kawan2 di Born Neo, saya tunggu tulisan2 berikutnya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua ini, regards.